-->
 

Bali Artilce

 

Bali Article
Bali Hotels Area
Bali Article
.
Bali Article
Bali Article
Welcome to Bali Article
Ramalan Ida Pedanda Istri Mas
Senin, 06 Oktober 2008

MAHATAPINI Ida Pedanda Istri Mas, 107, memberikan isyarat mengejutkan: Gumi Bali diramal akan diterjang air laut. Bahkan, berdasarkan petunjuk niskala yang diterima arsitek bebantenan sepuh asal Karangasem ini, ancaman Bali tenggelam itu bisa muncul di tahun 2008.

Namun, Ida Pedanda dari Griya Dauh, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem ini tak bisa memastikan kapan tanggal pastinya. "Buin jebos, yeh pasihe lakar menek, gumi baline kelem (Sebentar lagi air laut akan naik, Pulau Bali bisa tenggelam," tutur pedanda Budha tertua di Bali ini, berulangkali kepada NusaBali, di sela-sela menata aneka jaja banten jelang Karya Tabuh Gentuh di Desa Adat Bugbug, Kecamatan Karangasem, Minggu (9/12). Menurut Ida Pedanda, Pulau Bali sejak dulu sejatinya termasuk kawasan di Indonesia yang rawan bencana dari laut. Tapi, selama ini Bali selalu terhindar dari bencana, karena kuatnya tatanan umat sedharma, ditambah rutinitasnya menggelar upacara untuk meredam bencana seperti nangluk mrana, tabuh gentuh, dan mulang pakelem. Hanya saja, kata Ida Pedanda, ancaman bencana itu semakin besar dan sulit dihindari. "Buka cara pejalan jukunge, yeh pasihe terus muntang-manting. Keto masih Gumi Baline, terus kene gegodan sengkala (Ibarat jukung berjalan, terus dipontang-panting air laut. Begitu juga Gumi Bali, terus kena godaan bencana)," ujar sulinggih kelahiran tahun 1901 yang ketika masih walaka bernama Ida Ayu Made Rai ini. Kendati serentetan upacara terus dilaksanakan, menurut wiku tapini yang bergelar Abrasinuhun yang didiksa (dinobatkan) pada Buda Wage Ukir, 6 April 1949 ini, bencana besar dari laut tetap saja menghantui daratan Bali. Hal itu perlu diwaspadai bersama. "Caranne, aluh pesan. Umat di sajebag jagat Bali patut ngelaksanayang banten pakelem ka segara, marupa tipat kelanan. Ento anggon upacara nunas urip tekan Ida Batara baruna (Caranya gampang saja. Umat di seluruh Bali wajib melaksanakan banten pakelem ke laut, berupa tipat kelan. Itu dipakai upacara mohon keselamatan di hadapan Ida Batara Baruna)," jelas istri dari Ida Pedanda Gde Wayan Alit ini. Rangkaian upacara lainnya juga mesti dilaksanakan. Menurut Ida Pedanda, upacara yang juga wajib digelar umat sedharma adalah ngaturang banten pageh tuuh di Pura Dalem masing-masing desa adat. Tujuannya, memohon karahayuan (keselamatan) panjang umur. Yang tak kalah pentingnya, kata dia, pedanda di seluruh Bali turut memikirkan teknis upacara yang dilaksanakan guna menyelamatkan jagat Bali. "Pedanda sajebag Bali patut ngenehin, liu jani suba pawikan. Yen tiang dogen ngenehin, tuah sing mrasidayang, awak suba lingsir. (Pedanda di seluruh Bali wajib memikirkan, banyak sekarang pintar-pintar. Kalau saya sendiri memikirkan, tentu saja tidak mampu, saya sudah sepuh)," tuturnya. Ramalan soal bencana Bali tenggelam ini dilontarkan Ida Pedanda Istri Mas, berdasarkan petunjuk niskala yang diterimanya. Ramalan Ida Pedanda tentunya tidak mengada-ada. Dari kajian ilmiah yang dilakukan berbagai pihak, permukaan air laut, termasuk perairan Bali, memang terus naik akibat pemanasan global. Dan, isyarat dari Ida Pedanda Istri ini sedikit mengejutkan. Sebab, inilah untuk kali pertama Ida Pedanda Istri mengeluarkan isyarat yang nadanya sangat mencemaskan. Selama ini, Ida Pedanda nyaris tak pernah meluncurkan isyarat bernada keprihatinan. Ida Pedanda Istri Mas sendiri merupakan wiku tapini (sulinggih khusus bebantenan) teruta di Bali yang masih aktif hingga kini. Dia tercatat sudah selama 58 tahun menapak jalan ke-wiku-an, sejak didiksa oleh guru nabe Ida Pedanda Ketut Kerta, dari Griya Panji, Desa Budakeling pada 6 April 1949 silam. Di usianya yang sudah menginjak 107 tahun, Ida Pedanda Istri Mas masih tetap bersemangat dan tegar dalam membina dan membimbing para sisya (pangayah)-nya. Sulinggih sepuh ini juga begitu suntuk membangun candi-candi banten, baik di wilayah Bali maupun luar Bali, mulai yang berskala kecil (nista), menengah (madya), hingga besar (utama). Pendeta Budha ini ikut berperan sebagai wiku tapini saat upacara besar Karya Eka Dasa Rudra Pura Besakih tahun 1963 dan 1979, Karya Agung Tri Bhuana Pura Besakih (1983), Karya Agung Eka Bhuana Pura Besakih (1989), Karya Agung Panca Bali Krama Pura Besakih (1983 dan 1999). Selaku wiku tapini, Ida Pedanda Istri Mas berperan sebagai penentu kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan yadnya, berlandaskan sastra-sastra agama membangun dunia (bhuana) yang jagadhita bersama-sama dengan pedanda lanang yang bertugas sebagai yajamana dan pangrajeg karya. Ketiga pemeran yakni wiku tapini, yajamana, dan pangrajeg karya inilah yang lazim disebut Tri Manggalaning Yajnya.

wayan nantra

Label:

posted by Bali @ 18.44  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
About Me

Name: Bali
Home:
About Me:
See my complete profile
Previous Post
Archives
Links
Bali Article
Page Rank

Free Alexa Rank Checker Script

© 2006 Bali Artilce .Bali Information by back